Published On: Rab, Agu 23rd, 2017

Muhammadiyah dan Lapan Berpendapat Waktu Awal Masuk Sholat Subuh Perlu Dikoreksi

Share This
Tags

Ketua Himpunan Ilmuwan Muhammadiyah Prof Tono Saksono

Jakarta, Cakrabuananews.com – Islamic Science Research Network (ISRN) dari Universitas UHAMKA dan Lembaga Penerbangan Antarika Nasional (LAPAN) dan berpendapat mengenai perlu dikoreksinya waktu Shalat Subuh yang selama ini digunakan di Indonesia

Ketua Himpunan Ilmuwan Muhammadiyah Prof Tono Saksono dalam Seminar Evaluasi Awal Waktu Shalat Subuh Menurut Sains dan Fikih di Jakarta, Selasa (9/5/2017) mengatakan bahwa waktu masuk awal Shalat Subuh yang digunakan di Indonesia selama ini terlalu cepat hingga 20 sampai 30 menit. Hal ini seharusnya perlu dikoreksi.

Selama ini menurut Tono Saksono, fajar dinilai telah muncul saat matahari berada pada sudut depresi 20 derajat dibawah ufuk yang berarti sama dengan 80 menit sebelum matahari terbit.

Dari penelitian sementara yang dilakukan ilmuwan Muhammadiyah memperlihatkan fajar sebagai tanda dimulainya Shalat Subuh bagi Umat Islam di Indonesia baru muncul saat sudut depresi matahari ada di kisaran 11 hingga 15 derajat di bawah ufuk.

Bila dikonversi dalam domain waktu, maka sama dengan 44 hingga 60 menit sebelum matahari terbit. Tono Saksono menambahkan tidak ada satupun indikasi yang memperlihatkan bahwa sinar fajar sebagai tanda awal Subuh telah muncul saat matahari berada pada sudut depresi 20 derajat.

“Ini hasil riset kami dengan alat Sky Quality Meter (SQM), pengukur kecerlangan benda langit,” kata Tono Saksono yang juga Ketua Islamic Science Research Network (ISRN) Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka).

Tono Saksono menerangkan penentuan 20 derajat di bawah ufuk adalah keputusan ulama Melayu pada jaman dulu guna menentukan awal masuknya waktu Shalat Subuh serta permulaan puasa.

Bahkan ukuran dimulainya Shalat Subuh tersebut juga digunakan ulama Malaysia. Diakui Tono, pada zaman dulu memang belum ada peralatan canggih seperti jaman sekarang.

“Masih mengandalkan pengamatan dengan mata telanjang, jadi wajar jika tidak akurat,” kata Tono Saksono seperti dilansir Antaranews.com, Selasa (9/5/2017).

Mengenai ketetapan ulama masa lalu tersebut, juga dibenarkan Prof Dr Thomas Djamaluddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dengan mengatakan ketetapan minus 20 derajat sebagai awal waktu Sholat Subuh itu sepertinya didapat ulama jaman dulu dengan menggunakan standar yang digunakan di Mesir sebesar 19,5 derajat atau Arab Saudi yang mencapai 18 derajat dibawah ufuk.

Padahal posisi Mesir dan Arab Saudi berada d lintang tinggi, sedang Indonesia berada di wilayah Khatulistiwa. Thomas Djamaluddin menambahkan, penggunaan standar 20 derajat di bawah ufuk itu memang sudah saatnya memperoleh koreksi.

Syaratnya perlu pengamatan dari lokasi yang gangguan atmosfernya sangat sedikit sehingga tidak ada distorsi terhadap hasil data yang diperoleh. Guna mengoreksi standar waktu masuk Shalat Subuh yang selama ini digunakan, menurut Wakil Rektor Uhamka, Zamah Sari masih memerlukan pengujian lanjutan pada sisi astronomi serta kajian fikih.

“Seperti kesepakatan organisasi Islan laiannya. Lalu diserahkan ke Majelis Ulama Indonesia untuk dibuatkan fatwa. Jadi waktunya masih panjang (untuk mengubah awal masuk Shalat Subuh,” ujar Zamah Sari.

Sementara, Wakil Ketua Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Sirril Wafa mengatakan  NU siap dengan adanya peluang untuk berubah (terhadap waktu awal masuk Shalat Subuh).

Sirril Wafa pun mengusulkan perlunya kerja sama riset terkait astronomi antara NU, Muhammadiyah, MUI, Lapan dan organisasi lainnya. (adz/mentari online)

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>