Published On: Rab, Okt 30th, 2019

Bangladesh Akan Pindahkan Pengungsi Rohingya Ke Pulau Rawan Banjir, Bulan Depan

Share This
Tags

Sumber berita Reoter hari Senin (21/10) penalalu mengabarkan Otoritas Bangladesh akan mulai memindahkan sejumlah pengungsi Rohingya ke sebuah pulau yang rawan dilanda banjir. Ribuan pengungsi Rohingya disebut telah sepakat untuk dipindahkan ke pulau tersebut mulai bulan depan.

Laporan Reuter menyebutkan sekitara 100 ribu pengungsi Rohingya akan direlokasi ke Bhasan Char, sebuah pulau di perairan Teluk Benggala, untuk mengurangi kepadatan di kamp-kamp pengungsian di wilayah Cox’s Bazar.

Pulau itu berjarak beberapa jam jika ditempuh dengan kapal dari daratan utama Bangladesh. Kamp-kamp di Cox’s Bazar yang kini menampung lebih dari 1 juta pengungsi Rohingya yang melarikan diri kekerasan militer di Rakhine, Myanmar. .

“Kami ingin mulai merelokasi pada awal bulan depan,” kata Kepala Komisi Pemulihan dan Repatriasi di Cox’s Bazar, Mahbub Alam Talukder, kepada Reuters. Ditambahkan Talukder bahwa ‘para pengungsi akan dipindahkan secara bertahap’.

“Para pejabat sedang menyusun daftar pengungsi yang bersedia pindah ke sana,” Talukder, menambahkan sambil menyebut bahwa hingga Sabtu (19/10) waktu setempat, sekitar 7 ribu pengungsi Rohingya bersedia untuk dirpindahkan ke pulau tersebut.

Perserikatan Bangsa-Bangsa sedang membuat rencana untuk membantu Bangladesh dengan langkah tersebut, lapor Reuters bulan lalu.

Beberapa kelompok hak asasi manusia telah menyatakan keprihatinan atas rencana itu karena pulau itu terpencil dan rentan terhadap kehancuran akibat terpaan badai. Banyak pengungsi menentang langkah yang dikhawatirkan oleh beberapa pakar HAM dapat memicu krisis baru.

Tindakan keras yang dilakukan militer Myanmar pada tahun 2017 yang oleh penyelidik AS mengatakan dilakukan dengan “niat genosida” mendorong sekitar 730.000 pengungsi Rohingya melarikan diri.

Myanmar membantah hampir semua tuduhan kekejaman yang dilakukan terhadap para pengungsi selama sebagaimana dikatakan adalah operasi kontraterorisme yang sah oleh pasukan keamanannya.

Terkait hal ini Wakil Presiden AS Mike Pence mengecam sikap Aung San Suu Kyi atas penindasan militer Myanmar di negara bagian Rhakine. PBB mengatakan sebagai pembersihan etni.

“Kekerasan dan penganiayaan oleh militer dan keamanan Myanmar mengakibatkan 700.000 Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh tanpa alasan,” kata Mike Pence.

Sementara itu, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad dalam pertemua para pemimpin ASEAn di Singapura pada tahun lalu juga mengkritik Aung San Suu Kyi. Mahathir mengatakan bahwa sebagai bekas tahanan politik ia harus memahami penderitaan dengan lebih baik. Perlakuannya terhadap Rohingya tidak dapat dibenarkan.

Mahathir juga berkomentar bahwa para pemimpin ASEAN mencoba menghindari untuk saling mengkritik. Tetapi katanya, masalah Rohingya, tujuan utamanya adalah keinginan untuk menyelesaikan masalah.

Suu Kyi menjadi ikon demokrasi setelah ia menghabiskan sekitar 15 tahun masa hidupnya di bawah tahanan rumah karena menentang kediktatoran militer Myanmar sebelumnya.

Meskipun kini ia telah menjadi kepala de facto pemerintah sipil Myanmar sejak partainya menang pada pemilihan 2015, kekuasaanya dibatasi oleh konstitusi yang dibuat junta militer sebelumnya. Militer bertanggung jawab atas operasi keamanan termasuk di Rakhine. Namun Aung San Suu Kyi dikritik karena tidak membela Rohingya. Amnesty International telah mencabut penghargaan Aung San Suu Kyi.

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>