Published On: Sel, Nov 5th, 2019

Iran Konsisten Tolak Dialog dengan AS

Share This
Tags

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada hari Ahad (3/11) menegaskan Iran akan mempertahankan larangan dialog dengan Amerika Serikat.

Khamenei menggambarkan kedua negara tersebut sebagai musuh bebuyutan, sehari sebelum peringatan 40 tahun perebutan Kedutaan Besar AS di Teheran.

 “Salah satu cara untuk memblokir infiltrasi politik Amerika adalah dengan melarang dialog dengan Amerika. Itu berarti Iran tidak akan menyerah pada tekanan Amerika.

Mereka yang percaya bahwa negosiasi dengan musuh akan menyelesaikan masalah kita adalah 100% salah, ” ujar Khamenei, yang merupakan otoritas tertinggi Iran, seperti merilis Voice Of Amerika yang dikutip dari TV pemerintah.

Hubungan antara kedua musuh telah mencapai krisis selama setahun terakhir setelah Presiden AS Donald Trump meninggalkan Pakta Nuklir antara Iran dan dunia. Dalam pakta tersebut, Teheran menerima pembatasan untuk program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi.

Senada dengan pernyataan Ali Kamenei, Presiden Hassan Rouhani menegaskan Iran tidak akan pernah berunding lagi dengan Amerika Serikat secara bilateral. “Tidak ada keputusan yang diambil untuk menggelar dialog dengan AS.

Memang telah banyak tawaran untuk menggelar dialog, tapi jawaban kami tetap negatif,” kata Rouhani dalam sesi dengar pendapat dengan parlemen Iran yang berlangsung pada 3 September lalu.

Rouhani mengatakan, Iran masih mempertimbangkan untuk berunding lagi dengan AS secara multilateral jika Presiden Donald Trump menarik seluruh sanksi yang dijatuhkan atas Teheran.

“Jika Amerika mencabut seluruh sanksi maka semuanya akan seperti semula, di mana AS bisa bergabung dalam pertemuan multilateral yang juga dihadiri Iran bersama negara anggota perjanjian nuklir 2015 lainnya,” imbuhnya.

Rouhani juga menekankan Uni Eropa, yang selama ini berupaya menjadi penengah, untuk menyelamatkan perjanjian nuklir 2015 dalam waktu dekat. Jika tidak, Teheran akan kembali mengembangkan komitmen nuklirnya.

“Jika negara Eropa dapat membeli minyak kami dan kami dapat memiliki akses kepada sistem keuangan kami, itu akan meredakan dan memudahkan situasi, dan kami dapat sepenuhnya mengimplementasikan kesepakatan,” kata Rouhani.

Pernyataan itu diutarakan Rouhani menyusul tawaran Trump untuk bertemu demi meredakan ketegangan antara Iran- AS.

Trump mengumumkan hal itu setelah Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengatakan bahwa dia siap memfasilitasi pertemuan tatap muka keduanya di sela KTT G7 pada akhir Agustus lalu.

Dalam perkembangan selanjutnya, Amerika Serikat (AS) kembali memberlakukan sanski terhadap Iran pada Kamis (31/10). Sanski kali ini jatuh kepada sektor konstruksi Iran  serta perdagangan pada empat bahan yang digunakan dalam produksi senjata.

Menteri Luar Nergeri AS Mike Pompeo merasa sektor konstruksi negara Timur Tengah sangat dipengaruhi oleh Pengawal Revolusi Iran (IRGC). Selain itu, Pompeo mengakui empat bahan stategis yang digunakan sehubungan  dengan program-program rudal balistik, militer maupun pembuatan perdagangan yang di dalamnya akan dikenakan sanksi.

Sanksi diberlakukan meskipun AS telah menunda sanksi lain yang memungkinkan perusahaan asing mempertahankan pekerjaan non-proliferasi di wilayah tersebut.

“Dengan tekad ini, AS akan memiliki otoritas tambahan untuk mencegah Iran memperoleh bahan strategis untuk IRGC, sektor konstruksi, dan program proliferasi,” ujar Juru Bicara Departemen luar Negeri AS Morgan Ortagus dilansir Deutsche Welle, Jumat (1/11).

Pompeo konsisten mendukung upaya Trump memberikan tekanan maksimum di Teheran. Menurutnya, tindakan terbaru ini merupakan upaya yang jelas untuk menghalangi kemampuan nuklir Iran.

Ortagus mengutip Pompeo mengatakan, langkah tersebut membantu menjaga pengawasan program nuklir sipil Iran, mengurangi risiko proliferasi, membatasi kemampuan Iran untuk mempersingkat waktu jeda dalam menciptakan senjata nuklir, serta mencegah rezim membangun kembali situs-situs untuk tujuan

Dalam pada itu, Kementerian Keuangan AS telah memasukkan nama menteri luar negeri Iran dalam daftar sanksi negeri ini.

Pada Kamis pagi, Kementerian Keuangan AS menempatkan Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif dalam daftar sanksi, dan menuding kementerian luar negeri Iran sebagai institusi yang memuluskan jalan bagi Tehran untuk melanjutkan kegiatan destabilisasinya di  kawasan.

“Sanksi, tekanan maksimum, dan ancaman” menjadi tiga alat pemerintahan AS yang dipimpin Donald Trump untuk melawan Iran setelah AS keluar dari JCPOA dan menjatuhkan sanksi nuklir terhadap Tehran.

Diplomasi serta langkah politik cerdas dan rasional Iran selama ini berhasil menggagalkan kebijikan unilateralisme Trump terhadap Iran, terutama penyebaran Iranophobia di  Timur Tengah dan dunia.

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>