Published On: Sab, Nov 30th, 2019

Koalisi Pemberontak Dukung Tuntutan Hukum Terhadap Myanmar

Share This
Tags

Sebuah koalisi kelompok pemberontak etnis menyambut baik upaya masyarakat internasional untuk menuntut militer Myanmar melalui proses hukum atas dugaan genosida terhadap kelompok etnis minoritas termasuk Muslim Rohingya di wilayah barat negara itu.

Tiga kelompok bersenjata anggota Aliansi Utara – Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang (TNLA), Tentara Arakan dan Tentara Aliansi Demokrasi Nasional Myanmar – mengeluarkan pernyataan bersama pada Kamis menyambut tiga tuntutan hukum terhadap Myanmar di Pengadilan Pidana Internasional ( ICC), Pengadilan Internasional (ICJ), dan pengadilan Argentina atas pelanggaran hak di wilayah etnis.

Kelompok-kelompok itu mengatakan bahwa dalam konflik sipil yang berlangsung selama 70 tahun terakhir, militer Myanmar telah melakukan genosida, penangkapan di luar hukum, penyiksaan tidak manusiawi, pembantaian, penculikan dan penggunaan pemerkosaan sebagai senjata perang.

Koalisi itu menambahkan bahwa mereka siap bekerja sama dan mengumpulkan bukti kejahatan perang yang dilakukan oleh militer di Negara Bagian Shan dan Negara Bagian Rakhine antara 2009 dan 2019 dan mendukung penuh organisasi internasional yang telah menangani masalah ini bersama ICC dan ICJ.

Juru bicara TNLA Mai Aik Kyaw mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa kelompok-kelompok itu telah mengumpulkan informasi dan bukti pelanggaran hak oleh militer terhadap warga etnis serta Muslim Bengali — komunitas Muslim Rohingya di Rakhine.

“Beberapa orang mungkin menyebut kami pengkhianat, tetapi kami menganggap itu adalah salah satu cara yang mungkin untuk membawa keadilan bagi mereka yang menderita karena pelanggaran militer,” ujar Mai Aik.

Kelompok-kelompok yang belum menandatangani Kesepakatan Gencatan Senjata Nasional yang disponsori pemerintah itu terlibat dalam pertempuran sengit dengan militer di bagian utara Negara Bagian Shan dan di Negara Bagian Rakhine selama beberapa tahun terakhir.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan yang terus meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada 2012.

Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya dibunuh oleh tentara Myanmar.

Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh.

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>