Published On: Rab, Des 18th, 2019

Titik Terendah Di Daratan Ditemukan di Antartika

Share This
Tags

Sumber berita BBC Indonesia melaporkan Penemuan ini digambarkan dalam peta baru Benua Putih yang mengungkapkan bentuk bebatuan di bawah lapisan es dengan rincian yang belum pernah ada sebelumnya.

Penampakannya ini akan menjadi kunci pemahaman kita mengenai kemungkinan perubahan kutub selatan di masa depan.

Sebagai perbandingan, titik terendah di Bumi di ruang terbuka adalah pantai Laut Mati dengan kedalaman 413 meter di bawah permukaan laut.

Penemuan baru ini memperlihatkan punggungan gunung yang tak dikenali sebelumnya. Punggungan ini akan menghalangi mencairnya gletser ke daerah yang hangat yang bisa mempercepat menghilangnya gletser ini.

“Tak diragukan, ini merupakan gambaran paling akurat mengenai apa yang ada di bawah lapisan es Antartika,” kata Dr Mathieu Morlighem, yang mengerjakan proyek ini selama enam tahun.

Peneliti dari University of California, Irvine, ini mempresentasikan karyanya berjudul “BedMachine Antarctica”, di Pertemuan American Geophysical Union. Karya ini juga diterbitkan di jurnal Nature Geoscience.

Pada dasarnya peta ini melengkapi peta benua Antartika yang dibuat dari angkasa.

Selama berpuluh tahun, perangkat pengindraan diterbangkan melintasi Antartika, mengirimkan gelombang mikro untuk melacak topografi batuan di bawah lapisan es.

Namun masih banyak sekali area yang tidak ada datanya sama sekali.

Solusi dari Dr Morlighem adalah menggunakan ilmu fisika, yaitu menggunakan hukum konservasi massa, untuk melengkapi kebutuhan data ini.

Misalnya jika diketahui berapa banyak es yang memasuki lembah sempit dan berapa kecepatannya, volume es itu bisa dihitung, untuk memberi gambaran mengenai kedalaman dan kekesatan permukaan yang tersembunyi di dasar lembah.

Untuk Gletser Denman yang lebarnya 20 kilometer dan mengalir menuju lautan di Queen Mary Land, pendekatan ini bisa mengungkapkan bahwa es itu meluncur ke titik sedalam 3.500 meter di bawah permukaan laut.

“Parit di dasar samudra memang lebih dalam, tapi ini adalah ngarai terdalam di daratan,” kata Dr Morlighem.

“Banyak upaya untuk mengirimkan sonar guna mencari dasar Gletser Denman, tetapi setiap kali penerbangan dilakukan di atasnya, mereka tak bisa melihat datanya di radar”.

“Palungnya sangat dalam dan mereka mendapatkan pantulan dari dinding samping lembah, makanya mustahil untuk mendeteksi pantulan dari dasar gletser,” katanya kepada BBC News.

Sepintas, apa yang ada di BedMachine Antarctica ini tidak tampak beda dengan peta-peta sebelumnya.

Namun jika ditilik lebih jauh ada rincian mengesankan yang bisa memantik diskusi di antara para ahli tentang kutub.

Misalnya, di sepanjang Pegunungan Transantartika ada serangkaian gletser yang memotong dari dataran tinggi di kawasan timur dan masuk ke Laut Ross.

Data yang baru ini memperlihatkan adanya punggungan gunung tinggi di bawah gletser itu yang akan membatasi kecepatan pengeringan dataran tinggi.

Ini penting artinya apabila penghangatan di masa depan mendestabilisasi lonjoran es yang kini mengambang di atas Laut Ross.

“Jika sesuatu terjadi pada lonjoran es di Laut Ross – sekarang ini belum, tapi jika terjadi – kemungkinan besar tidak akan memicu runtuhnya Antartika Timur dari sini. Jika Antartika Timur terancam, maka itu bukan dari Laut Ross,” kata Dr Morlighem.

Kontras dengan situasi di Pegunungan Transantartika, BedMachine Antarctica menemukan sedikit saja penghalang bagi pencairan Gletser Thwaites.

Aliran es dari gletser yang ukurannya hampir sebesar Inggris ini berakhir di Laut Amundsen di ujung barat benua Antartika.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan ilmuwan karena gletser ini berada di lereng yang mengarah ke daratan dan geometri seperti ini cenderung untuk mempercepat pencairan es.

Peta baru ini mengungkapkan hanya dua punggung gunung, sekitar 30 kilometer dan 50 kilometer di hulu Gletser Thwaites yang bisa berfungsi menjadi penghalang pencairan.

Jika melewati keduanya, maka pencairan gletser tidak bisa dihentikan.

BedMachine Antarctica akan digunakan untuk untuk membuat model iklim yang akan memproyeksikan bagaimana benua ini berevolusi seiring peningkatan suhu di Bumi dalam beberapa abad ke depan.

Simulasi yang realistis dari model ini tergantung dari seberapa akurat informasi mengenai ketebalan lapisan es dan tipe tanah yang menjadi tempatnya meluncur.

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>