Published On: Sab, Jan 4th, 2020

MBS, Apakah Seorang Demokrat, Pembaharu Atau Diktator? – Bag 1

Share This
Tags

Siapa sesungguhnya Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman? Apakah ia seorang demokrat, diktator atau pembaharu?

Riyadh, CakrabuanaNews – Di bawah kepempimpinannya, Arab Saudi memasuki babak baru: perempuan dibolehkan menyetir mobil, bioskop dibuka, ekonomi nonminyak dikembangkan.

Namun ia juga dikenal memenjarakan pembangkang, dan dicurigai mengetahui pembunuhan wartawan senior Jamal Khashoggi yang kritis terhadapnya.

Putra bangsa

Lahir 31 Agustus 1985, Mohammed bin Salman, atau MBS, besar dalam kehidupan istana yang nyaman dengan pembantu, juru masak dan pekerja ekspatriat untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Sebagai seorang pangeran, MBS dikatakan: “Tampaknya ia boleh melakukan apapun yang ia suka,” kata mantan pekerja di Istana, Rachid Sekai.

Ketika ditawari kuliah di luar negeri, ia memilih belajar hukum di Universitas King Saud, Riyadh.

Keputusan itu dianggap patriotik oleh warga Saudi, membuatnya dianggap “putra bangsa”. Namun akibatnya ia tidak berbahasa Inggris dengan lancar.

Praktik poligami lazim di Arab Saudi, tapi MBS hanya beristri satu, yaitu Putri Sara binti Mashur bin Abdulaziz al-Saud.

Mereka menikah tahun 2009 dikaruniai dua putra dan dua putri. Untuk urusan ini, MBS sangat tertutup.

Bagaimana kisahnya seorang pangeran muda yang relatif tak dikenal tiba-tiba menjadi putra mahkota paling berkuasa?

Awal karier

Ketika lulus kuliah di usia 23, MBS magang di kantor ayahnya yang menjabat sebagai gubernur Riyadh saat itu.

Di situ ia belajar bagaimana ayahnya, Pangeran Salman, mengelola konflik dan berkompromi: keterampilan yang dibutuhkan untuk memerintah di Arab Saudi.

Tahun 2013, di usia 27 tahun, MBS menjadi kepala kantor putra mahkota, dan setahun kemudian ia menjadi menteri di kabinet.

Ketika Raja Abdullah mangkat bulan Januari 2015, Pangeran Salman – 80 tahun usianya ketika itu – menggantikannya.

Raja Salman kemudian mengangkat anak kesayangannya, MBS, sebagai menteri pertahanan sekaligus Sekjen untuk Pengadilan Kerajaan.

Yaman luluh lantak

Saat itu Arab Saudi menghadapi krisis di perbatasan selatan. Suku Houthi – sekutu Iran di Yaman – berhasil mengambil alih kekuasaan.

Bulan Maret 2015 MBS – tanpa berkonsultasi dengan para pangeran lain – membentuk koalisi 10 negara dan menyerang suku Houthi.

Tujuan resminya untuk mengembalikan pemerintahan yang diakui PBB, tetapi sesungguhnya untuk memukul sekutu Iran.

Misi ini berlarut-larut karena pasukan darat Saudi kesulitan untuk maju. Lima tahun perang, Yaman luluh lantak.

Ribuan korban jiwa jatuh, malnutrisi, kolera dan berbagai penyakit berkembang di sana. Diperkirakan sekitar 20 juta orang – dua pertiga penduduk Yaman – butuh bantuan luar untuk bertahan hidup.

Di dalam negeri, perang ini mendatangkan popularitas bagi MBS yang tak punya latar belakang militer. Ia dipandang berani bertindak untuk kepentingan negerinya.

Negara Barat awalnya mendukung. Namun sasaran serangan Angkatan Udara Arab Saudi ternyata juga mengenai rumah sakit, pemakaman, perumahan dan bus sekolah.

PBB memperkirakan kebanyakan korban sipil di Yaman disebabkan oleh serangan udara Saudi, terutama karena penggunaan bom curah. Ini menuai kecaman dari negara-negara Barat.

Penahanan 200 pangeran

Pada bulan Juni 2017 MBS menggantikan posisi Muhammad bin Nayef sebagai putra mahkota.

Nayef disukai Amerika Serikat, karena selama ini mengotaki langkah antiteror terhadap Al-Qaida.

Tak lama dalam posisi itu, MBS mengukuhkan kekuasaan secara spektakuler. Malam tanggal 4 November 2017, ia memerintahkan penahanan 200 orang pangeran.

Tanpa tuduhan apapun, mereka dikurung di hotel mewah Ritz-Carlton.

Penahanan ini disebut sebagai langkah antikorupsi, tapi pengkritik MBS melihat ini sebagai langkah menetralisir istana dari penentang.

Saat yang sama, MBS juga mengumpulkan kekuasaan di tangannya: Garda Nasional, Kementerian Dalam Negeri dan militer. Kekuasaan MBS hampir absolut.

Popularitas MBS meningkat ketika ia mengembangkan ekonomi nonminyak, mengubah Arab Saudi menjadi negara investor dan menyediakan lapangan kerja.

Ia juga mengembangkan Visi 2030, di antaranya adalah NEOM atau Neo Mustaqbal – Masa Depan Baru.

Ini adalah proyek kota baru senilai US$500 miliar di kawasan seluas 26.000 km persegi.

NEOM direncanakan dilengkapi drone, mobil tanpa pengemudi, robot, kecerdasan buatan dan sebagainya.

Semua digerakkan dengan tenaga surya dan bioteknologi.

Resminya, NEOM akan beroperasi di tahun 2025, tapi para ekonom ragu.

“NEOM tak realistis,” kata seorang ekonom. “Lihat Kota Ekonomi Raja Abdullah,” kata ekonom lain. “Kota itu seharusnya berpenghuni dua juta orang di tahun 2020, tapi sekarang hanya ada 8.000 penduduk.”

NEOM tampaknya akan tetap dibangun, tapi akan lebih lambat daripada yang direncanakan.

Apakah investor asing bersedia menanamkan modal di Arab Saudi, terutama mengingat MBS dikait-kaitkan dengan pembunuhan terhadap wartawan Jamal Khashoggi?

Pembunuhan Jamal Khashoggi

Dikenal sebagai seorang pengkritik MBS, Jamal Khashoggi pergi ke Konsulat Arab Saudi di Istanbul untuk mengurus surat cerainya tanggal 2 Oktober 2018.

Namun di dalam ia diringkus oleh tim intelijen yang dikirim Riyadh. Ia dibunuh dan dimutilasi. Jenazahnya tak pernah ditemukan.

Sekalipun perang di Yaman memakan korban ribuan jiwa, tapi kematian Khashoggi ini lebih menarik perhatian dunia.

Dinas intelijen negara Barat umumnya menduga kuat MBS setidaknya tahu mengenai operasi pembunuhan Khashoggi.

Kaitannya ada pada penasihat MBS, seorang mantan anggota Angkatan Udara bernama Saud al-Qahtani.

Al-Qahtani disebut-sebut mengelola pengawasan siber terhadap warga Saudi dengan memakai perangkat lunak yang agresif.

Menurut beberapa laporan, perangkat lunaknya bisa mengubah telepon pintar menjadi alat penyadap tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Khashoggi, 59 tahun, pernah menjadi penasihat media untuk duta besar Arab Saudi di London, tapi tahun 2017 ia pindah ke AS karena merasa tak aman.

Sejak itu kolom-kolomnya di Washington Post makin tajam mengkritik MBS.

Saat itu Khashoggi sedang merencanakan kampanye kebebasan berbicara di dunia Arab.

Dengan 1,6 juta pengikut di Twitter, Khashoggi adalah salah satu wartawan paling terkemuka di Timur Tengah.

Bagi MBS dan penasihat dekatnya, Khashoggi adalah ancaman, sekalipun sang pangeran membantahnya.

Kematian Khashoggi segera menjadi skandal internasional. Pihak berwenang Saudi menarik jarak dari skandal itu, dan menyebutnya sebagai ‘operasi liar’.

Hingga kini tak ada bukti langsung yang menghubungkan MBS dengan pembunuhan Khashoggi.

Namun sebuah analisis rahasia CIA yang didapat Wall Street Journal memperlihatkan adanya 11 pesan teks dikirim oleh MBS kepada al-Qahtani sebelum, selama dan sesudah Khashoggi dibunuh.

Bulan Agustus 2018, sebelum pembunuhan terjadi, Saud al-Qahtani bercuit: “Anda pikir saya membuat keputusan tanpa panduan? Saya pegawai dan pelaksana perintah dari Raja dan Putra Mahkota.”

Pangeran Khalid bin Bandar al-Saud, duta besar Arab Saudi di London mengatakan al-Qahtani sudah dipecat dan sedang diselidiki.

Tapi laporan dari Riyadh menyatakan ia tidak ditahan.

Arab Saudi sudah mengadili 11 orang dan menghukum mati lima di antaranya. Tak ada satu pun nama mereka yang diumumkan.

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>