Published On: Sab, Jan 4th, 2020

MBS, Apakah Seorang Demokrat, Pembaharu Atau Diktator? – Bag 2

Share This
Tags

‘Islam moderat’?

Malam hari pertengahan Desember di Diriyah, pinggiran ibu kota Riyadh, sekelompok anak muda Saudi berpakaian Barat menari diiringi musik.

Cahaya laser dan lampu mengiringi pertunjukan DJ terkenal asal Prancis, David Guetta.

Saat yang sama, para perempuan mengendarai mobil mewah, dan balap Formula E diselenggarakan di sana.

Ini adalah Arab Saudi yang baru. Percampuran jenis kelamin tak terpikirkan sama sekali sepuluh tahun lalu.

Arab Saudi dikenal sebagai tempat di mana Mutawwa, polisi syariah, menutup kafe di Riyadh dan meminta toko tak memutar musik dengan alasan dilarang syariah.

Sejak menjadi putra mahkota, MBS bekerja membalikkan citra Arab Saudi. “Yang terjadi selama 30 tahun terakhir bukan lah Arab Saudi,” kata MBS pada bulan Oktober 2017.

Selama ini Arab Saudi – negara kesukuan yang konservatif – tak pernah menikmati pesona kehidupan urban seperti di Baghdad atau Kairo.

Kini MBS ingin Arab Saudi digambarkan sebagai “Islam moderat” dan mulai mengeluarkan izin untuk konser musik dan misa bagi warga Kristen Koptik.

Warga Saudi juga mungkin lelah dipimpin oleh orang yang setengah abad lebih tua usianya dari mereka.

MBS, 34 tahun, terasa lebih dekat dengan kaum muda.

“Ia adalah pemimpin yang lama dinantikan di Arab Saudi,” kata Malek Dahlan, pengacara internasional.

“Saudi belum pernah punya pemimpin dengan kharisma besar seperti itu sejak Raja Abdulaziz.”

Namun di balik pesona MBS, ada hal yang lebih gelap.

Pembangkang

MBS dikenal tidak menyukai pembangkang.

Para blogger, ulama, pegiat hak asasi manusia – baik liberal maupun konservatif – ditahan dibawah undang-undang yang menghalangi pembangkangan.

Banyak pengamat mengatakan masalahnya bukan semata-mata perubahan, tapi MBS ingin perubahan itu datang darinya. Tuntutan jalanan dianggap berbahaya.

Contohnya adalah Loujain al-Hathloul. Ia seorang perempuan terdidik yang berkampanye agar perempuan diperbolehkan mengemudi dan aturan bepergian untuk perempuan dilonggarkan.

Aturan itu kini sudah berubah. Namun Loujain al-Hathloul dan beberapa perempuan pegiat lain dianggap mengganggu ketertiban dengan protes mereka.

Al-Hathloul ditahan dan para pegiat menyatakan ia disiksa dan ditahan di sel isolasi, kata Lynn Maalouf dari Amnesty International.

Dalam sebuah wawancara, MBS ditanya soal penyiksaan terhadap tahanan perempuan, ia berjanji akan menyelidikinya sendiri.

Di dalam negeri, tak banyak simpati bagi pegiat. Media umumnya melaporkan mereka sebagai pengkhianat yang tak patriotis.

Sejauh ini, MBS tidak terlihat merasa bersalah memenjarakan mereka. Dalam sebuah wawancara, ia mengatakan itu adalah harga yang harus dibayar untuk program reformasinya.

Masa depan

Di negara Barat, MBS yang sempat dianggap pembaharu mulai dijauhi – setidaknya di muka publik.

“Pembunuhan terhadap Khashoggi membuat MBS dianggap sama posisinya seperti Khaddafi, Saddam Hussain dan Assad,” kata seorang pengamat.

“Padahal Arab Saudi tak pernah berada dalam posisi itu sebelumnya.”

Namun bisnis dengan Arab Saudi masih berlanjut. Ekonomi mereka terlalu besar dan terlalu banyak kontrak yang menggiurkan untuk diabaikan oleh negara Barat.

Presiden AS Donald Trump adalah sekutu yang terus bertahan.

Kongres AS mencoba menghentikan penjualan senjata jutaan dolar ke Arab Saudi, tapi Trump memveto atas dasar strategis maupun finansial.

Pertimbangan pasar dan ketakutan terhadap Iran membuat Saudi akan tetap jadi sekutu.

Namun pertimbangan hak asasi manusia membuat Saudi sedikit menyesuaikan diri.

Misalnya mereka menunjuk Putri Reema binti Bandar al-Saud, sebagai duta besar untuk Amerika Serikat.

Perempuan pebisnis yang lama tinggal di AS ini menjadi duta besar perempuan pertama dari Arab Saudi.

Namun Saudi juga berupaya menjalin hubungan dengan mitra strategis lain: Rusia, China dan Pakistan yang tampaknya tak terlalu mempertanyakan soal hak asasi manusia.

Dalam 12 bulan terakhir, pelapor khusus PBB Agnes Callamard mengingatkan negara Barat akan kecurigaan MBS terlibat pembunuhan Khashoggi.

Namun ini tak menggoyahkan popularitas MBS. “Coba tanya kepada orang berusia 16-25 tahun di Saudi,” kata seorang pengamat.

“Mereka melihat MBS sebagai pahlawan. Mereka suka perubahan sosial budaya dan tekanan terhadap kaum fundamentalis agama yang dilakukannya,” katanya.

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>