Published On: Sel, Jan 14th, 2020

Uni Eropa Tolak Mundur dari Perjanjian Nuklir Iran

Share This
Tags

Negara-negara kuat di Eropa telah menolak seruan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk ikut mundur dari perjanjian nuklir 2015 dengan Iran (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA).

Para pengamat mengatakan ada beberapa faktor yang mendorong negara-negara Uni Eropa untuk mempertahankan perjanjian itu.

Setelah para Menteri Luar Negeri Uni Eropa mengadakan pertemuan darurat di Brussels, Belgia, Jumat (10/1), untuk membahas meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, Ketua urusan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell mengatakan blok 28-negara itu akan terus berusaha menyelamatkan perjanjian itu. Berdasarkan perjanjian itu, negara-negara kuat dunia melonggarkan sanksi-sanksi internasional dengan imbalan Iran membatasi program nuklirnya.

“Kami ingin menyelamatkan perjanjian ini sebisa mungkin,” kata Borrell kepada para wartawan setelah memimpin perundingan para menteri Uni Eropa di Brussels.

“Berkat perjanjian ini, Iran bukan negara dengan kekuatan nuklir,” tambahnya sebagaimana mengutip dari VOA.

Josep Borrell juga menyerukan diadakannya de-eskalasi aksi kekerasan yang terus meningkat di Timur Tengah dan Libya, seraya mengatakan, kawasan itu tidak sanggup lagi menghadapi perang dan kami menyerukan diadakannya de-eskalasi segera dan agar semua pihak menahan diri dengan sungguh-sungguh.”

Aksi kekerasan di kawasan itu akan merugikan usaha yang telah dilangsungkan bertahun-tahun untuk menstabilkan Irak, dan Eropa khawatir yang untung hanyalah ISIS, kata Borrell.

Pertemuan darurat di Brussels itu diadakan setelah Iran membalas pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani dengan menembaki pangkalan militer yang ditempati pasukan Amerika di Irak. Irak kemudian menuntut supaya semua pasukan Amerika ditarik dari negara itu.

Lebih lanjut Borrell mengatakan kelompok Uni Eropa bertekad akan menyelamatkan perjanjian nuklir dengan Iran dan menolak seruan Presiden Trump supaya Eropa ikut dengan Amerika keluar dari perjanjian nukli. Perjanjian tersebut dicapai dalam pemerintahan Presiden Barack Obama tahun 2015.

Sementara itu, konflik di Libya juga terus meningkat. Russia dan Turki menyerukan diadakannya gencatan senjata antara Libya bagian barat dan Libya bagian timur yang sedang bersengketa. 

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>