Published On: Sen, Feb 24th, 2020

GNA Libya Tak Lagi Berpartisipasi Di Perundingan Jenewa

Share This
Tags

Kepala Dewan Tinggi Libya mengatakan keputusan itu diambil karena pasukan Khalifa Haftar yang berbasis di Libya Timur terus-menerus menyerang warga sipil

Tripoli, CakrabuanaNews.com – Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) tidak akan berpartisipasi lagi dalam perundingan yang dimediasi PBB di Jenewa.

Hal itu dikonfirmasi oleh Khalid al-Mishri, kepala Dewan Tinggi Libya, pada Sabtu.

Dia mengatakan pasukan Khalifa Haftar yang berbasis di Libya Timur terus-menerus menyerang warga sipil.

Pejabat senior itu juga mengecam PBB karena tidak membagikan rincian yang relevan mengenai perundingan, termasuk nama-nama peserta.

Kritik itu merujuk pada perundingan putaran kedua di Jenewa yang mempertemukan komisi militer gabungan yang mewakili pasukan GNA dan Haftar pada Selasa.

Kemudian, pada Rabu, GNA menarik diri dari meja perundingan setelah pasukan Haftar melancarkan serangan ke Pelabuhan Tripoli yang menyebabkan tiga warga sipil tewas dan lima lainnya luka-luka.

Komisi militer gabungan 5 + 5 dibentuk setelah Konferensi Berlin bulan lalu untuk menyepakati gencatan senjata permanen.

Konferensi ini dihadiri oleh perwakilan Amerika Serikat, Turki, Rusia, Inggris, PBB, Aljazair, China, Mesir, Prancis, Jerman, Italia, Republik Kongo, UEA, Uni Afrika, Uni Eropa, dan Liga Arab.

Di bawah kesepakatan yang dicapai di Berlin, semua penandatangan berkomitmen untuk tidak ikut campur dalam perang saudara Libya, untuk mendukung gencatan senjata, menghormati embargo senjata, dan mendukung proses politik yang difasilitasi PBB.

Sejak lengser dan wafatnya Muammar Khaddafi pada 2011, dua kursi kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur dan satu lagi di Tripoli.

GNA diserang oleh pasukan Haftar sejak April lalu yang menewaskan lebih dari 1.000 orang.

Beralih ke berita lai, Erdogan akan temui Putin, Merkel, dan Macron pada 5 Maret bahas Suriah

Presiden Turki Erdogan memberi tahu Putin bahwa rezim Assad harus mengakhiri serangannya dan menghentikan krisis di Idlib

Presiden Turki mengungkapkan akan bertemu dengan para pemimpin Rusia, Jerman, dan Prancis pada 5 Maret untuk membahas situasi di Suriah dan Libya.

“Masalah Idlib sama pentingnya dengan wilayah Operasi Afrin dan Operasi Mata Air Perdamaian. Kami akan bertemu lagi pada 5 Maret untuk membahas masalah ini,” ujar Recep Tayyip Erdogan mengacu pada diskusi via telepon dengan Presiden Vladimir Putin, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan Presiden Emmanuel Macron pada Jumat.

Dia menekankan bahwa operasi militer Turki telah membawa perdamaian ke daerah-daerah yang dikuasai oleh kelompok teroris YPG/PKK dan Turki akan membangun lingkungan damai yang sama di Idlib.

Dalam lebih dari 30 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK – yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, Amerika Serikat, dan Uni Eropa – telah bertanggung jawab atas kematian 40.000 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. YPG adalah cabang PKK di Suriah.

“Mudah-mudahan kami akan mencapai hasil paling relevan untuk kepentingan negara kami dan saudara-saudara kami di Suriah,” tambah dia.

Erdogan menegaskan kebijakan Turki tentang Suriah dan Libya “harus dirancang dengan sebaik-baiknya” sehingga peta jalan pun sudah dibuat.

Selama pembicaraan di telepon pada Jumat, Erdogan memberi tahu Putin bahwa rezim Assad harus mengakhiri serangannya dan menghentikan krisis di Idlib.

Dia menambahkan bahwa menyelesaikan krisis di Idlib harus mengacu sepenuhnya pada Kesepakatan Sochi 2018.

Kemudian, keduanya menyatakan komitmen untuk mengimplementasikan semua kesepakatan yang dicapai tentang Suriah.

Idlib, yang merupakan rumah bagi empat juta warga sipil, ditetapkan sebagai zona de-eskalasi sejak akhir tahun 2018 melalui sebuah kesepakatan antara Turki dan Rusia.

Namun, rezim Assad dan sekutu-sekutunya konsisten melanggar gencatan senjata dan kerap meluncurkan serangan ke wilayah itu. Akibatnya, ratusan ribu warganya melarikan diri ke Turki.

Turki telah mendesak rezim untuk mengakhiri serangan dan mematuhi gencatan senjata.

Turki juga memperingatkan jika serangan tak diakhiri, maka Turki akan bertindak.

Sumber : Anadolu Agency

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>