Published On: Sen, Mar 9th, 2020

Mengenal Siapa Taliban Serta Kepemimpinan Taliban Pasca Perjanjian Dengan AS

Share This
Tags

Taliban berdiri sekitar awal 1990-an di wilayah Pakistan Utara setelah pasukan Uni Soviet mundur dari Afghanistan. Gerakan ini awalnya didominasi oleh orang-orang Pashtun dan pengaruhnya mulai terasa pada musim gugur 1994.

Kabul, CakrabuanaNews.com – Cikal bakal gerakan ini adalah pesantren dengan sumber dana dari Arab Saudi.

Janji Taliban di wilayah-wilayah kediaman warga Pashtun, yang tersebar di Pakistan dan Afghanistan, adalah memulihkan perdamaian dan keamanan berdasarkan Syariah Islam jika mereka berkuasa.

Di kedua negara itu mereka memberlakukan syariat Islam,  seperti eksekusi di depan umum untuk kasus pembunuhan dan perzinahan serta potong tangan bagi para pencuri.

Diberlakukan juga aturan pakaian yang ketat, seperti perempuan yang menggunakan burka atau pria yang harus memelihara janggut.

Serangan 11 September

Perhatian terhadap penguasa Taliban di Afghanistan makin besar setelah serangan di World Trade Centre, di New York pada September 2001.

Taliban dituduh memberi perlindungan kepada Osama Bin Laden dan Gerakan Al Qaida, yang dituduh AS bertanggungjawab atas serangan di New York.

Tak lama setelah serangan 11 September, Taliban berhasil digulingkan dari kekuasaan di Afghanistan oleh pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat.

Namun pemimpin Taliban ketika itu Mullah Mohammad Omar tidak berhasil ditangkap, begitu juga Osama Bin Laden.

Setelah sempat melemah, dalam beberapa tahun belakangan ini Taliban muncul kembali dengan melancarkan sejumlah serangan bom bunuh diri maupun serangan lainnya.

Para pengamat menduga meningkatnya serangan di Pakistan antara lain disebabkan oleh tidak adanya koordinasi antara faksi-faksi Taliban dengan kelompok-kelompok militan lain.

Laporan BBC menyebutkan, Faksi utama Taliban di Pakistan, yang disebut Tehrik Taliban Pakistan (TTP), ketika itu dipimpin oleh Hakimullah Mehsud, yang dituduh berada di belakang sejumlah serangan di Pakistan.

Sementara Taliban di Afghanistan diperkirakan masih dipimpin oleh Mullah Omar, seorang ulama yang kehilangan mata kanannya saat berperang melawan pasukan pendudukan Uni Soviet pada dekade 1980-an.

Serangan pimpinan AS

Tanggal 7 Oktober 2001, pasukan koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat menyerang Afghanistan dan dalam waktu sepekan saja rezim Taliban jatuh.

Namun Mullah Omar, sejumlah pemimpin senior Taliban dan para pemimpin Al Qaida selamat dari serangan itu dan berhasil bersembunyi.

Walau terus diburu oleh pasukan koalisi, Mullah Omar dan sebagian besar rekannya masih belum berhasil ditangkap.

Perlahan-lahan mereka juga tampaknya mulai menyusun kekuatan kembali di Pakistan dan Afghanistan, walau tetap berada di bawah tekanan tentara Pakistan dan NATO.

Kehadiran sejumlah besar pasukan asing tampakanya tidak menghalangi Taliban secara perlahan-lahan memperluas pengaruh mereka sejalan dengan meningkatnya kembali serangan di Afghanistan dan Taliban beberapa waktu ini

Beberapa pihak menyarankan agar Taliban diikutsertakan di dalam pemerintahan Afghanistan pimpinan Hamid Karzai, walau saran itu tidak ditanggapi serius oleh dunia internasional.

Taliban Bela Pemimpinnya sebagai Penguasa ‘Sah’ Afghanistan

Sebagaimana dilaporkan VOA, Taliban mengatakan perjanjian perdamaian yang ditandatangani dengan Amerika Serikat (AS) tidak mengubah status pemimpin tertinggi kelompok pemberontak itu sebagai “penguasa sah” Afghanistan.

Taliban menambahkan Mullah Haibatullah Akhundzada terikat oleh agama untuk mendirikan “pemerintahan Islam” setelah pasukan “okupasi” asing keluar dari negara itu.

Pengumuman terbaru Taliban itu memicu ketidakpastian yang menyelimuti perjanjian AS-Taliban yang ditandatangani pekan lalu di Qatar. Pengumuman itu juga muncul sehari setelah sebuah media AS melaporkan pemerintah AS memiliki informasi intelijen bahwa kelompok pemberontak itu tidak berniat mematuhi janji-janji yang dibuatnya dalam perjanjian perdamaian 29 Februari.

Sebuah pernyataan Taliban, Sabtu (7/3), menyatakan bahwa selain “Emir yang sah,” tidak boleh ada seorang penguasa Afghanistan. Dia merujuk pada Mullah Haibatullah Akhundzada sebagai “Emir yang sah.”

“Perang jihad selama 19 tahun melawan pendudukan asing berada di bawah komando seorang Emir yang sah, berakhirnya okupasi bukan berarti kekuasaannya dihapuskan,” katanya, merujuk pada perjanjian dengan Washington.

Perjanjian penting AS-Taliban, yang ditandatangani di depan para pejabat senior dari puluhan negara, membuka jalan bagi Washington untuk mengakhiri perang terlamanya dan membawa pulang sekitar 13.000 tentara dari Afghanistan dalam 14 bulan ke depan.

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>