Published On: Rab, Jun 3rd, 2020

Corona Dan Etika Sosial

Share This
Tags

Oleh HMS. Suhary AM

Demi Masa, sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal kebajikan serta saling menasehati  untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. (QS. Al ‘Asr : 1-3)

Wabah Virus Corona  (COVID 19) yang telah menjalar ke seluruh ploksok dunia dan menyentuh masyarakat manusia di berbagai mancanegara, betapa tidak, telah menggoncangkan keadaan itu sendiri. Mengapa demikian ? yang menjadi permasalahan adalah Sang Corona datang dan menyerang secara tiba-tiba kepada para individu masyarakat manusia dan kemudian membunuh banyak manusia dalam waktu yang singkat.

Tak dapat dipungkiri bahwa dengan beredarnya wabah Corona yang telah menjangkiti masyarakat manusia di berbagai mancanegara, termasuk di Indonesia berdampak pada “sikap masyarakat”  yang menjadi lebih ‘over protektif’terhadap lingkungan hidup kemasyarakatan.

Wabah Virus Corona kini menjadi realitas sosial yang harus dihadapi masyarakat dunia, banyak Kepala Negara/Pemerintahan di berbagai mancanegara kewalahan menghadapi Virus Corona, pasalnya Corona menyerang manusia tidak pandang bulu, masyarakat kecil dan para pejabat tinggi banyak yang terkena virus Corona.

Para dokter di Indonesia berjibaku di front kesehatan menangani bahaya virus Corona, bekerja sepenuh masa tanpa mengenal lelah, dan yang lebih kasihan lagi, justru beberapa dokter telah meninggal dunia, karena menghadapi dan menangani korban wabah Corona. Corona memang dahsyat sekali, menyerang secara halus tanpa ada aba-aba lagi, dokter-dokter pun menjadi korban.

Hasbi (Abie)  dalam makalahnya memaparkantentang perilaku sosial menghadapi virus Corona dimana rasa takut, curiga, sikap over-protektif  dalam merespons  isu Corona memiliki potensi untuk merusakan hubungan sosial dengan invidu lain, apalagi kita hidup dalam lingkungan pergaulan di kantor, sekolah, universitas, bahkan keluarga.

Akibat dari kebijakan pemerintah tentang PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar) dimana masyarakat tidak bisa bergerak secara leluasa, sekolah dan universitas diliburkan, masyarakat dilarang mudik, pertemuan umum juga dilarang, berkumpul di warung, restoran, hotel dan di berbagai tempat juga dilarang, bekerja dilakukan di rumah (working from home) dan lain lain pembatasan yang intinya dilarang berkumpul, karena social distancing (pembatasan jarak sosial).

Bagi kaum Ibu/Bapak, karena menganggur dan yang berkerja di rumah, akhirnya banyak kaum ibu/kaum bapak memproduksi kehamilan, realitasnya banyak ibu ibu muda melahirkan anak, bisa jadi jutaan bayi lahir di seluruh Indonesia dalam masa Covid 19. Maka penduduk Indonesia akan bertambah terus dari waktu ke waktu.

Penulis melihat sikap masyarakat dan para tokoh masyarakat, bahkan para kiyai/ulama dalam menghadapi wabah Corona antara pro dan kontra yang mendasarkan pada argumentasi masing-masing, baik secara medis, sosial security (keamanan sosial) maupun  agama.

 Gus Najih, seorang kyai  berpengaruh,  misal nya mengomentari terhadap wabah Corona, jangan ditakutkan, katanya masjid, pondok pesantren dan majlis taklim tidak perlu tutup, tetap berjalan seperti biasa. Dengan argumentasi dalil-dalail Al Qur’an dan Hadist Nabi maupun  dalil dalil ilmu fikih.

Kita lihat ada Baleho ukuran besar di jalan Serang Pandeglang dekat pasar Baros, terpampang tulisan kami dari Jawara dan Ulama tetap memikran (baca Qur’an), taraweh dan sholat berjamaah, tetap kami jalankan. No way dengan Corona, kira kira seperti itu.

Pasa masa bulan suci Ramadhan ini, banyak masjid tetap eksis menjalankan sholat berjamaah, sholat jumat dan sholat jamaah taraweh. Antara keyakinan teologis dan virus Corona tidak bermasalah, Corona tidak terlihat dan aktifitas di masjid tetap berjalan seperti biasa. Masyarakat Muslim berkeyakinan bahwa Allah SWT akan melindungi orang orang yang beriman dari wabah Corona. Jadi, tidak ada masalah untuk menjalankan aktifitas di bulan suci Ramadhan yang penuh limpahan berokah, rahmat  dan pahala dari Allah SWT.

Namun, ada juga masjid masjid di perkotaan, sebut saja masjis majid di Jakarta dan di kota kota lainnya, telah menutup kegiatan sholat berjamah, sholat jumat dan kegiatan lainnya di masjid karena menghindari dari wabah Corona.

Etika sosial dan Sikap masyarakat lainnya, khususnya bagi kaum ibu, dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka tetap pergi ke pasar untuk berbelanja, padahal pasar itu tempat ramai orang. Penulis melihat di pasar Pandegkang, pasar Baros dan Rau tetap ramai dikunjungi banyak orang untuk berbelanja, begitu juga di mall-mall. Seakan akan mereka  mengabaikan bahaya virus Corona. Rasa lapar dan kebutuhan makan hari hari menjadi pertarungan dan tuntutan sosial bagi mereka tanpa harus takut dengan Corona.

Etika Sosial dalam Islam

Dalam prespektif Islam, bahwa Tuhan telah mengingatkan kepada hamba hambanya (umat manusia) bahwa Tuhan telah bersumpah, menyatakan Demi Masa ! manusia itu, semuanya dalam kerugian, jika tidak beriman dan melakukan tindakan kebenaran dan penuh kesabaran dalam berbagai hal dalam kehidupan  bermasyarakat.

Ketika melihat permasalahan dalam kehidupan masyarakat, kata kuncinya adalah Taawanuu ‘alal birri wattakwa, walaa taawanuu ‘alal ismi wal udwan (Tolong menolonglah  atas dasar kebaikan dan takwa dan jangan tolong menolong atas dasar dosa dan permusuhan, demikian peringatan Allah dalam Al Qur’an).

Dalam prespektif Corona, sudah tentu harus dilihat secara obyektif, rasional dan transparan tidak secara emosional. Kebijakan PSBB sebenarnya adalah untuk melindungi masyarakat dari bahaya Corona. Hal itu, adalah untuk kebaikan masyarakat, akan tetapi di wilayah lain dimana tidak adanya indikasi yang terkena Virus Corona, disikapi masyarakat secara transparan, artinya berada dalam zona hijau, maka aktifitas kemasyarakatan bisa berjalan secara normal, tanpa harus ada ketakutan yang berlebihan, karena itu, jika beraktifitas harus menggunakan masker, sarung tangan dan alat perlindungan lainnya bisa dilakukan, agar terhindar dari kemungkinan-kemungkinan  yang tidak dikehendaki.

Kesimpulannya adalah bahwa Etika Sosial kemasyarakatan antara peraturan, sikap pro dan kontra serta landasan keagamaan adalah hal yang normatif yang dapat dipahami secara rasional dan obyektif, karena masyarakat kita adalah dinamis dalam menanggapi berbagai permasalahan sosial dalam  kehidupan berbangsa dan bernegara.

—————————

Penulis adalah Sekretaris Komisi Hubungan LN dan Kerjasama Internasional MUI Banten.

Ketua PP MPSII (Pimpinan Pusat Majlis Pendidikan Syarikat Islam Indonesia).

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>