Published On: Rab, Jun 3rd, 2020

Islam Di Tengah Dua Ideologi Dunia Antara Kapitaalisme Dan Komunisme

Share This
Tags

Ketua Dewan Pakar Badan Koordinasi Mubaligh Indonesia (Bakomubin) Propinsi Banten, Drs. KH. MS. Suhary AM, MA., dalam menyikapi polemik tentang kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang kembali mengemuka, dan di pihak lain negara tersandera oleh sistem kapitalisme.

Serang Banten, Cakrabuananews – Menurut KH. MS. Suhary, dunia saat ini berada dalam dua kekuatan ideologi besar, komunisme dan kapitalisme. Di pihak lain, ideologi Islam berada di tengah antara kapitalisme dan komunisme.

KH. MS Suhary menjelaskan, ” Kapitalisme-Liberalisme lahir dari prinsip sekularisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan. Dalam pandangan Kapitalisme, manusia berhak menentukan aturan main kehidupannya. Pemahaman ini lahir atas kejumudan tingkah pola kaum gerejawan yang berkongsi dengan bangsawan sehingga seakan-akan titah mereka adalah titah Tuhan.

Sementara itu, menurutnya, sistem komunisme meyakini bahwa perubahan sosial harus dimulai dari pengambilalihan alat-alat produksi melalui peran Partai Komunis. Logika ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh atau yang lebih dikenal dengan proletar.

Secara umum Komunisme berlandaskan pada teori Dialektika Materialisme dan Materialisme Historis sehingga tidak bersandar pada kepercayaan mitos, takhayul dan agama. Jadi, tidak ada penanaman doktrin agama pada rakyat. Prinsip dalam Komunisme, “Agama adalah Candu” membatasi rakyatnya dari pemikiran ideologi lain yang dianggap tidak rasional dan keluar dari hal yang nyata (kebenaran materi).

KH. MS Suhary, menambahkan, baik komunisme maupun kapitalisme, dalam segi akidah, tentu menyalahi Islam. Komunisme bukan sekadar mengesampingkan aspek spritual, bahkan menyebut aspek spritual sebagai tidak ada. Penganutnya banyak yang agnostik (tidak mempercayai agama) atau bahkan ateis (tidak mempercayai Tuhan).

” Di pihak lain, kapitalisme menciptakan syarakat model viramidal kelas (elit class/high class, middle class dan low class), atau sistem kasta dalam keyakinan Hindu,” ujarnya  

lebih lanjut dia menjelaskan, Islam tidak menciptakan masyakat dalam tingkatan kelas (berjuis maupun proletar) sistem sosial Islam adalah membangun kebersamaan dalam kehidupan dan mensejahterakan kaum dzuafa (fakir miskin).

Manusia dalam pandangan Islam adalah sama sederajat, yang membedakannya  hanya nilai takwanya di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Islam juga berlawanan dengan pola hidup komunisme “Sama rata dan sama rasa”, dalam masyarakat manusia tidak mungkin disamaratakan dan di sama rasakan. “Qul qullu ya’malu ‘alaa syakilathi” (Firman Allah) maknanya tiap tiap pekerjaan seseorang itu bekerja sesuai dengan kemampuannya (akal,  ilmu dan skill-nya) tidak bisa disama ratakan.

Dalam prespektif ajaran Islam masyarakat di bangun dengan pola   “Taawanuu alal birri wattakwa watawanuu alal istmi wal udwan” (Tolong menolong terhadap sesama manusia atas dasar kebaikan dan takwa dan bukan tolong menolong atas dasar dosa  dan permusuhan).

Sudut pandang Islam terhadap ideologi liberalisme yang berkembang sejak abad 15 oleh  Rene Descartes bahwa liberalisme meletakan dasar rasionalisme di atas segalanya. Cuma ideologi ini tidak sebengis dan seganas komunisme yang suka melakukan social  Genocide terhadap masyarakat manusia yg tidak sejalan dengan komunisme.

KH. MS. Suhary, menjelaskan, dalam Islam kebebasan akal pikiran diberikan ruang untuk bergerak dan berpikir, cuma ada batasan-batasan dalam kaidah norma sosial.  Tidak bisa bebas tanpa batasan. Misalnya manusia bebas berbuat kemunkaran dan kemaksiatan.  Hal itu, tidak bisa dibenarkan dalam Islam.

“Akal dan ilmu harus dalam bimbingan wahyu,  jika tidak, akan terjerumus kedalam jurang kesesatan dan kehinaan, pungkasnya. (adz)

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>