![]() |
|||||||||||||||||
|
Senin,2008-07-28, 15:20:10 WIB PROF. DR. M. SIDIK NAWAWI: SEDEKAH ELIT POLITIK JANGAN HANYA MENJELANG KAMPANYE SAJA, TAPI WAJIB HUKUMNYA YANG 2,5% Jakarta, KBC - Kampanye Pilpres dan Pemilu untuk tahun 2009 ini cukup panjang mencapai 9 bulan. Tapi, yang perlu dicatat disini para elit politik jangan mengeksplotir rakyat dalam kampanye untuk saling jelek-menjelekan diantara para calon pilpres atau saling gontok-gontokan, Ciptakanlah kampnye ini sebagai sarana pembelajaran demokrasi bagi rakyat. “Kita harus banyak belajar penglaman kampnye masa silam yang berbuah kepada bentrokan akibat saling gontok-gontokan yang diutarakan elit politik dalam kampanyenya dan berapa jumlah yang jatuh korban akibat kampanye ini”, tandas Prof. DR. M. Sidik Nawawi di kediamanya, Semper, Jakarta Utara baru-baru ini. Kenapa langkah itu harus dilakukan? Rakyat kita belum dewasa akan pengetahuan ditambah lagi dengan kualitas SDM nya, jadi mereka lebih banyak dijadikan alat dan dieksploitir oleh elit- elit politik untuk menjatuhkan lawan-lawannya, Akibatnya terjadi gontok-gontokan dan bentrokan antar massa. Maka, pemerintah harus membuat ketegasan membuat koridor tentang pelaksanaan kampanye agar tidak terjadi tindakan anarkhis, katanya. Disini artinya negara harus memberikan perlindungan dan keselamatan kepada masyarakat. Jika ini dilakukan dan sudah menjadi komitmen para peserta kampanye maka kegiatan ini pun tidak ada lagi benturan. Namun juga ada sekedar sumbang saran, perihal kampanye yang lebih efektif dan mungkin bisa diterima rakyat yakni, action langsung ke masyarakat melalui bakti sosial, ujarnya. “Saya tanpa harus menyebut salah satu OPP, namun parpol ini berhasil mendongkrak suaranya pada pilpres 2004 lalu, karena kegiatan kampnye yang dilaksanakan terlebih dahulu melakukan aksi sosial ke grass root. Kalau melihat aktivitas ini lebih efektif bahkan tidak menimbulkan bentrokan antar massa, karena kegiatan sosial dianggap mengena ke rakyat”, paparnya. Kondisi rakyat kita saat ini benar-benar sulit dan terpuruk, kalau OPP (Organsasi Peserta Pemilu) mau melakukan action seperti ini, Insyaallah akan mampu menarik simpati rakyat. Namun jika cara kampanye pernah dilakukan yang lalu dengan menghadirkan para jurkam diapnggung dengan umbar janji ini dan itu, rakyat sudah jenuh dan janji tinggal janji pada kampanye begitu usai pesta dan terpilih hanya cek kosong yan diberikannya,ujar Sidik. Nah, kalau aksi sosial dilakukan pada kampanye tentu akan mendapatkan simpati masyarakat dan resiko benturan antar massa bisa dieleminir. Dipihak lain, memotivasi para elit politik untuk melakukan sedekah kepada masyarakat atau rakyat bukan hanya terjadi pada saat momentum kampanye saja. Tapi juga mereka harus menyadari bahwa pendapatan yang dimiliknya itu sebagian milik orang lain yang membutuhkannya. Demikian KBC melaporkan. |
|
||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||