Bagikan ini:

" />
Published On: Rab, Sep 5th, 2018

PBB umumkan gencatan senjata di Ibu Kota Libya

Share This
Tags

Tripoli, Cakrabuananews.com  — Perswrikatan Bangsa-Bangsa hari Selasa mengatakan berkata bahwa persetujuan gencatan senjata telah tercapai antara kelompok-kelompok milisi yang bertikai di Ibu Kota Libya, Tripoli.

Misi Dukungan PBB untuk Libya berterima kasih kepada semua pihak dan mengucapkan selamat kepada mereka.

“Semua pihak setuju mencari resolusi damai untuk mengakhiri krisis, terutama menghentikan kekerasan dan membuat mekanisme pemantauan yang sesuai. Jika semua pihak menunjukkan ketulusan dan penghormatan penuh atas komitmen ini, dialog lebih lanjut akan diadakan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa dan akan membicarakan pengaturan keamanan yang sesuai di ibu kota,” tulis perjanjian itu.

Seluruh milisi setuju menurunkan sejata, menunda serangan lain yang membahayakan kesepakatan gencatan senjata, memastikan masyarakat sipil tidak terancam dan hak asasi manusia dihormati seperti yang tertulis dalam hukum nasional dan internasional, serta melindungi semua bangunan milik pribadi dan publik.

Pekan lalu, pemerintahan gabungan Libya yang didukung oleh PBB menyatakan keadaan darurat di ibu kota dan sekitarnya karena bentrokan yang terjadi antara beberapa milisi yang bertikai.

Keputusan ini muncul setelah 38 orang terbunuh dalam kekerasan yang terjadi di tenggara Tripoli pada 26 Agustus.

Beberapa pemerintahan negara Barat juga menerbitkan pernyataan tertulis yang berisi imbauan untuk mengakhiri kekerasan di Tripoli.

“Pemerintah Prancis, Italia, Inggris, dan Amerika Serikat menyambut baik hasil mediasi yang dicapai di Tripoli hari ini oleh Misi Dukungan Persatuan Bangsa-Bangsa yang bertujuan untuk mengurangi kekerasan di dalam dan sekitar Tripoli dan memastikan masyarakat terlindungi,” kata pernyataan itu.

“Kami menekankan kembali dukungan besar kami kepada Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal PBB Ghassan Salame atas keberhasilannya mengurangi kekerasan dengan cepat dan berkelanjutan di Ibu Kota Libya, yang merupakan langkah penting menuju proses politik yang sesuai dengan Rencana Aksi Persatuan Bangsa-Bangsa.”

Libya terjebak dalam kekacauan sejak 2011 ketika pemberontakan berdarah yang dibekingi NATO mengakibatkan tewasnya Muammar Gaddafi setelah lebih dari empat dekade berkuasa.

Sejak itu, kekuatan politik Libya pecah menjadi dua — satu di Tobruk dan yang lain di Tripoli — dan kelompok-kelompok milisi dengan persenjataan lengkap bermunculan. (adz/anadolu agency)

 

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>