Bagikan ini:

" />
Published On: Sel, Sep 25th, 2018

Rupiah Kembali Melemah Picu Kenaikan Rasio Utang

Share This
Tags

Bank Indonesia

Jakarta, CakrabuanaNews.com  —  Nilai tukar rupiah pada Senin pagi (24/9) bergerak melemah sebesar 46 poin menjadi Rp14.837 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.791 per dolar AS. Salah satunya dipicu gejolak politik internasional, terutama batalnya pembicaraan antara Cina dan AS mengenai masalah tarif.

Kantor Berita Indonesia Antara melaporkan, Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra di Jakarta, mengatakan keputusan Cina membatalkan pembicaraan tarif dan perdagangan tingkat menengah dengan Amerika Serikat memicu mata uang Rusia berisiko kembali mengalami tekanan.

“Investor kembali fokus pada perang dagang, Cina telah membatalkan kunjungannya ke AS yang dijadwalkan pekan ini,” katanya, dilansir situs Antara hari Senin.

Selain itu, Cina menambahkan 60 miliar dolar AS produk AS ke daftar tarif impornya.

Langkah tersebut sebagai balasan Cina terhadap bea masuk AS atas barang-barangnya senilai 200 miliar dolar AS.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menambahkan hubungan politik Amerika Serikat-Tiongkok juga memburuk menyusul pembelian jet tempur serta rudal oleh Tiongkok dari Rusia.

Pelemahan rupiah akan mendorong kenaikan utang. Sebelumnya, dalam konferensi pers APBN di kantor Kementerian Keuangan bulan lalu, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan RI, Luky Alfirman mengatakan posisi utang pemerintah per Agustus memang naik dibandingkan Juli 2018.

Menurutnya, utang pemerintah yang mengalami kenaikan salah satunya disebabkan faktor eksternal seperti penurunan nilai mata uang rupiah terhadap mata uang asing lainnya, terutama dolar AS.

Situs Republika Senin (24/9) melaporkan, pemerintah Indonesia harus mewaspadai nilai utang yang terus bertambah di tengah tekanan perekonomian global. Per 31 Agustus 2018, tercatat utang pemerintah mencapai Rp 4.363,2 triliun atau 30,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang mencapai Rp 14.395,07 triliun.

Direktur Eksekutif Institute of Development for Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, mengatakan, kondisi utang yang terhitung tinggi ini harus menjadi perhatian bersama. Sebab, kondisi tersebut bisa berdampak negatif dengan kondisi ekonomi dalam negeri dan global yang belum berjalan baik.

Meski demikian, Direktur Eksekutif Departemen Internasional BI, Doddy Zulverdi menilai ekonomi Indonesia lebih baik dan lebih tahan saat ini meski banyak tekanan yang sifatnya eksternal.

Situs Kompas melaporkan, indikator utang luar negeri pemerintah, tahun 1998 rasionya 100 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Rasio utang pemerintah Indonesia terhadap PDB sebesar 29,8 persen pada kuartal II 2018 dan pemerintah berkomitmen menjaga untuk tetap di bawah 30 persen secara keseluruhan hingga akhir tahun ini.

Menurut Doddy, pemerintah harus meyakinkan pasar bahwa Indonesia berbeda dengan negara berkembang lain yang mulai mengalami krisis, seperti Argentina, Turki, dan sebagainya. (adz/antara/kompas/republika/irib)

 

 

 

 

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>