Bagikan ini:

" />
Published On: Rab, Sep 26th, 2018

Bandung, Kota Kembang dengan Wajah Kolonialisme

Share This
Tags

Bandung, CakrabuanaNews.com  — Kenapa Bandung secara relatif masih mempertahankan segregasi warisan kolonial? Kenapa garis batas kelas warisan kolonial itu masih bertahan sampai sekarang? Ikuti opini Zaky Yamani, seperti dirilis Deutcshe Welle.

Di seluruh Indonesia, mungkin tidak ada kota yang seperti Bandung, di mana wilayahnya secara sosial dan tata kota terbagi dua: utara dan selatan. Pembagian itu bukan tanpa maksud dan tidak terjadi secara alamiah, tetapi memiliki tujuan dan didesain untuk memenuhi tujuan itu.

Bandung secara resmi didirikan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, di bawah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada 25 September 1810. Daendels sendiri sebenarnya adalah gubernur jenderal yang mewakili Perancis, karena saat itu Belanda berada di bawah kekuasaan Perancis.

Saat itu, Perancis sedang berperang dengan Inggris, dan Jawa adalah wilayah yang sedang akan direbut Inggris. Maka untuk mempertahankan Jawa, Daendels membuat jalan yang berfungsi sebagai jalur pertahanan memanjang dari Anyer di ujung barat Jawa sampai Panarukan di ujung timur Jawa, yang disebut juga sebagai Jalan Raya Pos. Jalan itu sedianya menyusur pesisir utara Jawa, namun karena alasan strategi suplai logistik, dari Karawang jalan itu dibelokkan ke arah selatan untuk mencapai wilayah yang kemudian menjadi cikal bakal Kota Bandung. Daendels juga memerintahkan pusat pemerintahan tradisional Bandung yang awalnya berada di daerah Dayeuhkolot dipindahkan ke dekat Jalan Raya Pos, atau yang sekarang dikenal sebagai Alun-Alun Bandung. Di lokasi itu didirikan pendopo sebagai tempat bupati Bandung memerintah, dan masjid yang kemudian disebut Masjid Agung.

Pendopo dan Masjid Agung terletak di sisi selatan Jalan Raya Pos itu, yang menandai pula wilayah kekuasaan tradisional bupati atas rakyat pribumi, yang sebagian besar berdomisi di selatan Jalan Raya Pos itu. Sementara fasilitas-fasilitas pemerintah kolonial dibangun tepat di tepi Jalan Raya Pos dan cenderung mengarah ke utara.

Bandung yang tadinya hanya jadi kawasan perlintasan, mulai ramai dikunjungi sejak kawasan Priangan—dari Cianjur sampai Ciamis—mulai dibuka untuk umum. Sebelumnya kawasan itu dinyatakan kawasan tertutup hanya untuk kepentingan pemerintah kolonial Belanda dalam program tanam paksa, terutama untuk komoditi kopi. Ketika dibuka untuk umum, para pengusaha perkebunan—yang adalah orang-orang Eropa—mulai memasuki kawasan Priangan dan menjadikan Bandung sebagai tempat transit. Dimulailah era pembukaan lahan-lahan perkebunan swasta di kawasan Priangan, dengan juragan-juragan Eropa yang memiliki perkebunan-perkebunan yang sangat luas dan mereka dikenal sebagai Preanger Planters. (adz/dw)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>