Bagikan ini:

" />
Published On: Sab, Nov 24th, 2018

New York Times: Myanmar gagal atasi penganiayaan Rohingya

Share This
Tags

New York, CakrabuanaNews.com – Harian Amerika Serikat New York Times (NYT) mengatakan rencana Myanmar untuk merepatriasi warga Rohingya gagal mengatasi penganiayaan terhadap muslim di negara itu.

Dalam sebuah kolom opini, dewan redaksi NYT mengatakan warga Rohingya harus dapat kembali ke rumah mereka di Myanmar, namun mendorong mereka kembali melintasi perbatasan bukanlah cara yang tepat.

“Tidak ada yang bertanya kepada Rohingya tentang rencana repatriasi, dan mereka sangat panik ketika pasukan Bangladesh memasuki kamp dan mengatakan kepada kelompok beranggotakan 2.200 orang untuk bersiap pergi,” tulis dewan redaksi pada Kamis.

“Dengan satu suara, yang tua dan yang muda berteriak, ‘Kami tidak akan pergi!'” tambahnya.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan yang terus meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap masyarakat Muslim minoritas pada Agustus 2017.

Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh tentara Myanmar.

Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dibakar, sementara 114.000 lainnya dipukuli, menurut laporan OIDA yang berjudul ‘Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira’.

Sementara itu, sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.

PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan — termasuk bayi dan anak kecil — pemukulan brutal, dan penculikan yang dilakukan oleh personil keamanan.

Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

“Posisi warga Rohingya semakin terdesak di antara ketidakadilan terburuk yang terjadi di dunia saat ini,” tulis redaksi.

Surat kabar itu juga mengkritik pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi atas perannya dalam penganiayaan terhadap Rohingya.

“Pemerintah Myanmar, termasuk Aung San Suu Kyi yang sebelumnya disegani, telah membantah segala kesalahan yang dituduhkan kepadanya, menggunakan alasan kuno dan sejarah timpang untuk membenarkan perlakuannya terhadap Rohingya sebagai pengusik di tanah yang didominasi umat Buddha,” tambahnya.

PBB dan berbagai kelompok hak asasi manusia menyatakan keberatan atas rencana untuk memulangkan warga Rohingya ke Myanmar, mengatakan bahwa kondisi yang belum kondusif bisa membahayakan jiwa mereka.

“Tidak, Nyonya Aung San Suu Kyi, dunia tidak membutuhkan penjelasan atau skema repatriasi Anda yang gagal mengatasi penganiayaan Rohingya dan memberi mereka jaminan bahwa mereka dapat membangun kembali rumah mereka yang terbakar habis dan hidup dalam keamanan dan bermartabat,” tulis dewan redaksi NYT.

UNICEF mencatat mayoritas besar pengungsi di Cox’s Bazar Bangladesh enggan untuk kembali kecuali jika keselamatan mereka terjamin.

Pekan lalu, pemerintah Bangladesh menangguhkan pemulangan warga Rohingya ke Myanmar menyusul aksi protes yang dilakukan lebih dari 700.000 pengungsi. (adz/aa)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>