Published On: Sel, Okt 22nd, 2019

Mahathir: Malaysia Terperangkap Dalam Perang Dagang AS-Cina

Share This
Tags

Kuala Lumpur, Cakrabuananews – Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan pada hari Senin bahwa negaranya yang bergantung pada ekspor dapat terkena sanksi perdagangan di tengah meningkatnya proteksionisme, sebagaimana disorot oleh perselisihan perdagangan antara Amerika Serikat dan Cina.

Mahathir tidak menyebutkan negara mana yang akan menjatuhkan sanksi terhadap negara jiran Indonesia itu. Tetapi mengatakan dia kecewa bahwa para pendukung perdagangan bebas sekarang terlibat dalam praktik-praktik perdagangan terbatas pada “skala besar”.

“Sayangnya, kami terperangkap di tengah,” katanya dalam konferensi di ibukota Kuala Lumpur, merujuk pada perang dagang AS-Cina.

“Secara ekonomi kita terhubung dengan kedua pasar, dan secara fisik kita juga terjebak di antara keduanya karena alasan geografis. Bahkan ada saran bahwa kita sendiri akan menjadi sasaran sanksi.” kata mahathir, sebagaimana rerilis Al Jazeera dan dikutip cakrabuananews.

AS dan Cina adalah dua dari tiga tujuan ekspor terbesar Malaysia antara Januari dan Agustus tahun ini dan Singapura adalah tujuan utama.

Untuk mengurangi dampak tabrakan antara negara-negara adidaya, Mahathir mengatakan Malaysia lebih banyak berkolaborasi dengan negara-negara tetangga di kawasan itu.

“Kita bisa berharap yang terbaik dan mempersiapkan yang terburuk dengan bekerja dengan tetangga Asean kita untuk meredam dampak tabrakan negara adidaya. Kita harus meningkatkan kolaborasi kita,” katanya.

Mahathir juga mengeluh diintimidasi oleh negara-negara kuat, merujuk pada kampanye oleh negara-negara Eropa terhadap andalan pertanian kelapa sawit Malaysia. Minyak nabati berkontribusi 2,8 persen dari produk domestik bruto Malaysia tahun lalu dan 4,5 persen terhadap total ekspor.

“Setelah menebangi sebagian besar hutan dan menolak untuk mengurangi emisi berbahaya, mereka sekarang mencoba memiskinkan orang miskin dengan mencegah mereka dari menebangi hutan untuk ruang hidup dan mencari nafkah,” katanya.

Uni Eropa meloloskan tindakan awal tahun ini untuk menghapus minyak kelapa sawit untuk bahan bakar terbarukan pada tahun 2030 karena kekhawatiran deforestasi.

Ada juga kekhawatiran bahwa India, salah satu pembeli minyak kelapa sawit terbesar di Malaysia, akan membatasi impor produk tersebut karena pertikaian diplomatik atas komentar yang dibuat oleh Mahathir mengenai tindakan New Delhi baru-baru ini di wilayah Kashmir yang disengketakan di Asia Selatan.

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>