Published On: Sab, Okt 26th, 2019

Malaysia Minta Myanmar Hormati Prinsip Bandung Terkait Rohingya

Share This
Tags

Baku, CakrabuanaNews – Malaysia meminta Myanmar untuk menghormati Dasasila Bandung hasil Konferensi Asia-Afrika pertama dalam menyelesaikan kasus Rohingya.

Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Saifuddin Abdullah mengatakan Myanmar adalah rekan, sesama anggota GNB dan mitra dekat di ASEAN.

“Kami berharap Myanmar bergabung dengan kita semua dalam menghormati dan mematuhi prinsip-prinsip Bandung dan hukum internasional, serta hukum kemanusiaan dan HAM,” ujar dia, dalam pertemuan tingkat menteri KTT ke-18 Gerakan Non-Blok (GNB), seperti dikutip New Straits Times.

Saifuddin mengatakan pemulangan Rohingya secara sukarela, aman dan bermartabat harus segera dimulai dan pelaku kekerasan entis tersebut harus ditindak.

Repatriasi, lanjut Saifuddin, merupakan kunci untuk menyelesaikan krisis pengungsi Rohingya dan itu tak akan terjadi jika mereka enggan berpartisipasi.

“Rohingya harus diajak konsultasi, mereka harus yakin akan keselamatan ketika kembali ke Negara Bagian Rakhine,” tambah Saifuddin.

Proses awal lahirnya GNB bermula dari Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang digelar di Bandung pada 18-24 April 1955.

Konferensi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendalami masalah-masalah dunia, kemudian memformulasikannya menjadi kebijakan bersama dalam tatanan hubungan internasional.

Pertemuan ini dihadiri oleh 29 kepala negara dan kepala pemerintahan dari Benua Asia dan Afrika yang baru saja merdeka.

Pertemuan itu juga menyepakati ‘Dasasila Bandung’, prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan hubungan dan kerja sama antarbangsa.

Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh tentara Myanmar.

Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, menurut laporan OIDA yang berjudul ‘Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira’.

Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>