Published On: Rab, Des 18th, 2019

Boeing Akan Hentikan Sementara Produksi Pesawat 737 Max Pada Januari

Share This
Tags

Produksi Boeing 747 Max akan dihentikan sementara pada Januari. Adapun produksi pesawat jenis lainnya akan terus berlanjut, walaupun model 737 Max dikenai sanksi larangan terbang selama sembilan bulan setelah dua kecelakaan yang mematikan.

Lebih dari 300 orang tewas ketika dua pesawat 737 Max jatuh di Indonesia dan Ethiopia setelah dilaporkan ada masalah dengan sistem kontrol otomatisnya, yang bernama MCAS.

Model 737 diproduksi di Seattle, Washington. Pabrikan pesawar Boeing merupakan salah satu eksportir terbesar Amerika Serikat.

Pekan lalu, Kongres AS diberitahu bahwa Badan Penerbangan Federal AS (FAA) telah mengizinkan pesawat Boeing 737 Max untuk terus terbang setelah kecelakaan pertama pada Oktober tahun lalu, meskipun mereka mengetahui ada risiko terjadinya kembali kecelakaan.

Saham Boeing turun lebih dari 4% pada Senin di tengah adanya spekulasi bahwa maskapai penerbangan akan mengumumkan penundaan produksi pesawat Boeing.

Pabrikan pesawat Boeing mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka memiliki 400 unit pesawat 737 Max di gudang penyimpanan.

Dikatakan pihaknya memiliki rencana untuk memindahkan secara sementara para karyawan yang terkena dampak penundaan produksi 737 ke unit lainnya.

Saat ini anda sedang menyimak berita CakrabuanaNews,

Pihak berwenang AS mengakui ‘kesalahan’ terkait jatuhnya Lion Air dan Ethiopian Airlines

Analisis yang dilakukan setelah kecelakaan pertama yang menimpa maskapai Lion Air di Indonesia tahun lalu memperkirakan kemungkinan terjadinya 15 kecelakaan selama masa pakai pesawat jika perubahan desain tidak dilakukan.

Meski demikian, FAA tidak menghentikan pengoperasian pesawat Max hingga kecelakaan kedua terjadi lima bulan berselang.

Kepala FAA Steve Dickson, yang menjabat sejak Agustus lalu, mengatakan bahwa keputusan itu merupakan sebuah kesalahan.

Hasil penilaian risiko FAA diungkap dalam sidang Kongres AS, pada Rabu (11/12). Anggota Kongres AS tengah menyelidiki Boeing menyusul kecelakaan 737 Max di Indonesia pada Oktober 2018, dan Ethiopia pada bulan Maret lalu. Kedua insiden tersebut menewaskan 346 orang.

Para pejabat keamanan penerbangan yang menginvestigasi kedua kecelakaan itu telah mengidentifikasi sistem kontrol otomatis 737 Max 8, yang bernama MCAS, sebagai faktor penyebab kecelakaan.

Boeing mengatakan bahwa sistem yang mengandalkan sensor tunggal itu menerima data yang salah, yang membuatnya mengesampingkan kendali pilot dan mendorong pesawat ke bawah.

Hasil penyelidikan FAA terhadap kecelakaan Lion Air JT610 menyerukan kepada Boeing agar merancang ulang sistemnya, dan memperingatkan bahwa lebih dari selusin kecelakaan bisa terjadi selama 45 tahun masa pakai 4.800 unit pesawat 737 Max yang sudah beroperasi.

FAA juga mengeluarkan peringatan kepada maskapai penerbangan. Namun, lembaga tersebut tidak mewajibkan agar pesawat jenis itu dikandangkan hingga kecelakaan kedua terjadi pada 10 Maret 2019 di Ethiopia, beberapa hari setelah reaksi dari berbagai negara mengemuka.

“Apakah sebuah kesalahan terjadi?” tanya anggota kongres dari Partai Demokrat, Henry Johnson.

“Yang jelas hasilnya tidak memuaskan,” kata Dickson. Dalam jawabannya terhadap beberapa pertanyaan lanjutan, ia mengakui bahwa lembaganya telah membuat kesalahan dalam proses itu.

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>