Published On: Kam, Agu 13th, 2020

Taliban Ancam Akhiri Perdamaian Jika Pemerintah Kabul Khianati Perjanjian

Share This
Tags
Seorang pria Afghanistan berjalan melintasi gambar mural Zalmay Khalilzad (ki.), Utusan Khusus AS untuk Afghanistan dan Mullah Abdul Ghanis Baradar (ka.), ketua delegasi Taliban, di Kabul, 13 April 2020.
———————-

Jelang pertukaran tawanan perang, Taliban mengancam bakal membatalkan perjanjian jika anggotanya diserang dan dibunuh oleh pasukan pemerintah. Kecurigaan menghantui fase kritis perundingan damai di Afghanistan 

Kabul, Cakrabuananews –  Ancaman tersebut dilayangkan menjelang pembebasan sebanyak 400 kombatan Taliban yang ditawan di penjara pemerintah Kabul.  

Jurubicara Taliban Shueil Shaheen dalam pernyataannya, merujuk pada 11 insiden dalam beberapa bulan terakhir, ketika sejumlah tokoh Taliban yang baru dibebaskan lantas dibunuh, dianiaya atau ditangkap kembali oleh aparat keamanan. 

Pemerintah di Kabul membantah aparat menyerang anggota Taliban, jika tidak ada alasan jelas.  

Di sepanjang akhir pekan lalu, dewan tradisional Loya Jirga menyepakati pembebasan 400 tawanan Taliban dan sekaligus membuka jalan bagi putaran baru perundingan damai. Namun hingga Selasa (11/8), tahanan tersebut belum juga dibebaskan. 

Kedua pihak sebenarnya diharapkan baru bakal kembali bertemu di Qatar dalam beberapa pekan ke depan. Tapi Taliban mengatakan putaran baru perundingan akan bisa dimulai hanya sepekan setelah pembebasan tahanan. 

Fase kritis perundingan damai 

Suhail mengklaim pemimpin Taliban sudah memerintahkan anggotanya “untuk tinggal di rumah bersama keluarga masing-masing.” Tapi serangan oleh pemerintah “akan mengusir mereka dari rumah,” dan berpotensi kembali mengangkat senjata. 

“Insiden seperti itu sudah pernah terjadi. Mereka ditangkap kembali atau juga dibunuh,” katanya. 

Ancaman tersebut dilayangkan menjelang pembebasan sebanyak 400 kombatan Taliban yang ditahan di penjara pemerintah.  

Jurubicara Taliban Shueil Shaheen dalam pernyataannya, merujuk pada 11 insiden dalam beberapa bulan terakhir, ketika sejumlah tokoh Taliban yang baru dibebaskan lantas dibunuh, dianiaya atau ditangkap kembali oleh aparat keamanan. 

Pemerintah di Kabul membantah aparat menyerang anggota Taliban, jika tidak ada alasan jelas.  

Di sepanjang akhir pekan lalu, dewan tradisional Loya Jirga menyepakati pembebasan 400 tawanan Taliban dan sekaligus membuka jalan bagi putaran baru perundingan damai. Namun hingga Selasa (11/8), tahanan tersebut belum juga dibebaskan. 

Kedua pihak sebenarnya diharapkan baru bakal kembali bertemu di Qatar dalam beberapa pekan ke depan. Tapi Taliban mengatakan putaran baru perundingan akan bisa dimulai hanya sepekan setelah pembebasan tawanan. 

Anggota Taliban yang ditawanan oleh pemerintah sedang menunggu pembebasan di Lapas Pul-e-Charkhi, Kabul, 31 Juli 2020
——————————

Fase kritis perundingan damai 

Suhail mengklaim pemimpin Taliban sudah memerintahkan anggotanya “untuk tinggal di rumah bersama keluarga masing-masing.” Tapi serangan oleh pemerintah “akan mengusir mereka dari rumah,” dan berpotensi kembali mengangkat senjata. 

“Insiden seperti itu sudah pernah terjadi. Mereka ditangkap kembali atau juga dibunuh,” katanya. 

Gossman meyakini, tanpa strategi dan sistem yang baik, ancaman serangan terhadap ribuan bekas kombatan di kedua belah pihak akan mengungkap rapuhnya proses perdamaian di Afghanistan. 

“Jika melihat tingkat kecurigaan antara kedua pihak, dendam lama bisa memicu lebih banyak tindak kekerasan,” tuturnya. 

Sementara itu Jurubicara Presiden Ashraf Ghani, Sediq Sediqqi, membantah militer menyerang bekas anggota Taliban. 

Namun klaimnya itu berbanding terbalik dengan insiden pada Juli silam, ketika serangan udara militer Afghanistan di barat Herat menewaskan 14 orang. Kebanyakan korban merupakan warga desa yang sedang berkumpul untuk menyambut kedatangan anggota Taliban yang pulang dari penjara. 

“Masalah re-integrasi bekas narapidana akan menjadi kekhawatiran politik jangka panjang yang bakal bertahan lama setelah rekonsiliasi,” kata Michael Kugelman, Wakil Direktur Asia di Wilson Centre, sebuah lembaga pemikir AS. 

“Sistem yang ideal, dan masih belum jelas apakah negara Afghanistan punya kapasitas buat mengimplementasikannya, adalah sistem yang menyediakan bekas kombatan dengan peralatan dan kemampuan agar bisa produktif di luar medan perang, dan bahwa negara memberikan insentif atau sumber daya ekonomi buat membantu mereka,” pungkasnya. adz (afp, fpa, dw/) 

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>