Published On: Sen, Sep 20th, 2021

Mengenal istilah Sunda

Share This
Tags

Ditulis oleh Ali Dzulfiqar, penulis tentang Kasundaan juga sebaga Pemimpin Redaksi cakrabuananews.com

Tahukah Anda apa istilah Sunda, berasal dari bahasa apa, dan apa artinya? Istilah Sunda berasal dari kata bahasa “Sanskerta”, asal dari kata bahasa “Sudha”  yang artinya “putih bercahaya”.

Pada awalnya istilah Sunda dipakai untuk menamai gunung yang menjulang tinggi di wilayah bagian barat pulau Jawa, yaitu gunung Sunda. Gunung itu dari jauh kelihatan putih bercahaya karena tertutup abu yang berasal dari letusan gunung itu. Selanjutnya nama gunung itu dipakai untuk menamai wilayah tempat gunung itu berada. Wilayah itu disebut Tanah Sunda, Tatar Sunda, atau Pasundan, dan penduduk yang tinggal di sekitar gunung itu disebut suku Sunda atau etnik Sunda.

Adapun, kapan istilah Sunda itu mulai ada? Tidak ada data sejarah konkrit yang menjelaskan kapan istilah itu mulai ada.

Jika dikaitkan dengan kerajaan Tarumanagara, istilah Sunda pertama kali dipakai oleh Maharaja Purnawarman, raja Tarumanangara ke-3, pada tahun 397. Ia membangun ibukota kerajaan baru yang dinamainya Sundapura, nama itu pertama kalinya digunakan dalam istilah politik. Selanjutnya Maharaja Tarusbawa yang merupakan penerus raja-raja Tarumanagara yang memerintah Tanah Sunda pada tahun 669-723, dalam tahun 670 mengganti Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda.

Setelah Kerajaan Sunda itu runtuh pada tahun 1579, di bekas wilayah kerajaan itu terbagi menjadi beberapa kerajaan Islam, diantaranya: Kesultanan Islam Cirebon (1526-1682), Kesultanan Islam Banten (1528-1982), Kerajaan Islam Sumedanglarang dan Kerajaan Galuh. Masing-masing negara itu berdiri sendiri sebagai negara berdaulat. Selanjutnya Sumedanglarang dan Galuh bersatu dalam sebuah federasi dengan nama Priangan, selain juga berdiri Sunda Cianjur di pegunungan orientasi ke perbatasan Banten dan bekas Pajajaran Girang serta Pajajaran Tengah yang berpusat di Cikundul, Cianjur.

Mari kita menengok ke belakang pada sejarah peradaban Sunda. Maka secara histori terdapat bukti-bukti kuat yang menjelaskan bahwa batas-batas wilayah Sunda, terutama yang berhubungan dengan tapal batas Jawa, batas wilayah itu adalah (sungai) Cipamili  di Brebes di ujung utara dan Ciserayu di bagian selatan.

Ketika imperialis Belanda berkuasa dan Tanah Sunda pada waktu itu sedang dikuasai Mataram kecuali Banten yang berada di bawah kekuasaan Kesultanan Islam Banten. Pada tahun 1706, diserahkan Mataram kepada Kompeni (VOC) dengan batas-batas wilayah yang telah disepakati antara Mataram dengan Belanda, yaitu sungai Cilosari di utara dan sungai Cidonan di selatan. Selanjutnya oleh Gubernur Herman Willem Deandels (1808-1811), batas wilayah di selatannya digeser ke sebelah barat dari sungai Cidonan ke sungai Citanduy. Selanjutkan kebijakan pemerintah Hindia Belanda menjadikan pulau itu menjadi tiga propinsi seperti yang pernah dibentuk Hindia Belanda pada tahun 1926, yaitu propinsi Jawa Timur, Propinsi Jawa Tengah dan propinsi Jawa Barat, dengan batas-batas wilayah yang sama seperti yang ditetapkan Mataram dan Kompeni pada tahun 1706, dengan perubahan dari Gubernur Jendral Deandels.

Tanah Sunda sekarang masuk dalam teritorial negara Republik Indonesia. Maka orang hanya tahu batas wilayah Sunda yang berhubungan dengan wilayah Jawa adalah sungai Cilosari di utara dan sungai Citanduy di selatan. Jika batas-batas wilayah itu dihubungkan dengan faktor sejarah Kerajaan Sunda yang pernah berdiri di wilayah itu, apalagi jika dikaitkan dengan masalah budaya dan unsur sosialnya atau faktor manusianya yang berada di sebagian Brebes, Salem, Majenang, Ciawitali, Cilongkrang dan Cilacap. Jelas mereka mempunyai keterkaitan erat dengan suku Sunda, baik secara bahasa, sosial maupun budaya, mereka adalah masyarakat Sunda yang berbudaya dan berbahasa Sunda.

Sementara itu istilah Sunda dalam kaitan sebagai Kontinental, Sunda dipakai untuk menamai dataran Asia bagian tenggara. sedang dataran timurnya disebut sahul. Dahulu kala ketika permukaan bumi mengalami perubahan bentuk akibat dari adanya proses alam. Pada mulanya di zaman tersier, yaitu salah satu priode ketika permukaan bumi mengalami perubahan. Sebagian besar wilayah yang disebut Nusantara merupakan lautan. Daratannya hanya Kalimantan yang bersatu dengan daratan Asia, dan Papua pada waktu itu menjadi satu dengan Australia.

Ketika permukaan bumi mengalami perubahan kembali hingga beberapa kali. Pada waktu itu memasuki zaman kuartier, dimana luas daratan dan lautan di wilayah yang sekarang disebut Nusantara mengalami perubahan sampai empat kali. Pada masa glasial, yaitu ketika terjadi pembekuan air pada sebagian besar permukaan bumi, permukaan air turun sampai 70 meter sehingga sebagian besar wilayah Asia Tenggara menjadi daratan dan terbentuklah dataran Sunda yang bersatu dengan benua Asia. Sedangkan Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya merupakan kepulauan yang menyatu dengan gugusan Asia Tenggara. Sementara itu Papua bersatu dengan daratan Australia dikenal dengan daratan Sahul. 

Pada masa interglasial, yaitu ketika mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan akibat adanya panas bumi yang meningkat. Maka dataran rendah terendam air kembali sehingga terjadilah lautan, sedangkan dataran tingginya yang terpisah dengan benua Asia membentuk pulau-pulau. Pulau-pulau itu terdiri dari pulau-pulau yang berukuran besar disebut Sunda besar, yaitu: Pulau Sumatera, Pulau Jawa berikut Pulau Madura dan Pulau Kalimantan. Sedangkan pulau-pulau kecilnya disebut Sunda kecil, yaitu Pulau Bali, pulau-pulau di Nusa Tenggara dan Pulau Timor.

Daratan Sunda, daratan itu dikelilingi oleh sistem gunung Sunda (circum Sunda Mountain system) yang panjangnya sekitar 7000 km. Daratan Sunda itu terdiri atas dua bagian utama, yaitu bagian utara yang meliputi kepulauan Filipina dan pulau-pulau karang sepanjang lautan Pasifik bagian barat serta bagian selatannya dibentuk oleh kawasan mulai dari Pulau Banda di timur terus ke arah barat melalui pulau-pulau di kepulauan Sunda Kecil, Jawa, Sumatera, kepulauan Andaman dan Nikobar terus sampai Arakan Yoma di Birma. Selanjutnya daratan ini bersambung dengan kawasan sistem gunung Himalaya.

Pada zaman ketika Eropa menjajakkan kaki di negeri yang disebut daratan Sunda itu oleh Inggris, Perancis dan Belanda dirubah menjadi nama yang dihubungakan dengan India pada wilayah yang mereka kuasai. Seperti istilah India Belakang atau Indo China yang dijajah oleh Inggris dan Perancis. Sementara Belanda menyebut jajahannya dengan istilah Insulinde, Neder-lands Indie (Hindia Belanda), atau Oost Indie (Hindia Timur).

Semua istilah itu walau dalam pemakaian katanya ada perbedaan, tapi jelas semuannya menggunakan istilah India, sehingga istilah Sunda yang tadinya digunakan untuk menamai wilayah itu menjadi tidak populer. Kini istilah Sunda itu hanya dikenal dalam buku-buku kajian sejarah atau anthropologi, itupun terbatas jumlahnya.

Sebegitu pentingnya istilah India itu, sampai-sampai Prof. James Ricardson Logan, seorang berkewarganegaraan Inggris dalam tulisannya yang diterbitkan tahun 1847 menyebut negeri Sunda (Sundaland) dengan sebutan Kepulauan India dengan menggunakan istilah “Indos-nesos”. “Indos” artinya “India”, “Nesos” berarti “Kepulauan”. Jadi “Indos-Nesos” berarti “Kepulauan India”. Oleh Prof. Adolf Bastian, seorang berkewarganegaraan Jerman, pada tahun 1884 istilah Indonesia yang disebut Indos-Nesos itu dipopulerkannya dengan sebutan “Indonesie”.

Ketika pemuda-pemuda bumiputera selaku anak negeri jajahan pada waktu itu banyak yang sekolah ke Eropa rupanya istilah Indonesie yang dipopulerkan Adolf Bastian menjadi perhatian mereka tertarik menggunakan istilah Indonesie itu menjadi sebuah nama pergerakan nasional mereka dalam upaya untuk melepaskan diri dari penjajahan Belanda. Inlander, sebutan untuk pribumi yang mula-mula menggunakan istilah Indonesia adalah Suwardi Suryaningrat ( Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 dia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers Bureau.

Nama indonesische (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti indisch (Hindia) oleh Prof. Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan indonesiër (orang Indonesia).

Baru setelah Kongres Pemuda tahun 1928, istilah Indonesia secara resmi digunakan oleh para Inlander untuk menamai negeri ini, menggantikan istilah India Belanda atau India Timur yang selama itu digunakan Belanda. Kemudian pada masa setelah itu, istilah Indonesia banyak dipakai oleh berbagai kalangan untuk menamai organisasi, perkumpulan atau partai, hingga ketika para Inlander itu mendirikan negara, berikut wilayah dan orang yang ada didalamnya serta bahasa menggunakan nama Indonesia.

Istilah Indonesia baru ada pada pertengahan abad ke-19 yang berkembang untuk menggantikan nama negeri Sunda (Sundaland) atau istilah lain Nusantara sebagai nama rangkaian pulau-pulau yang ada di negeri ini. Sejak dulu kala orang menyebut negeri ini Sunda, yaitu negeri yang telah didiami rumpun bangsa Melayu sejak ribuan tahun lalu. Bahkan berdasarkan literatur terbaru sebagaimana dikemukakan Oppenheimer dan Prof Arioso Santos penduduk negeri Sunda yang mereka Sebut sebagai Sundaland sudah memiliki peradaban jauh melebihi kemasyhuran peradaban Yunani kuno yang menjadi induk dari peradaban Eropa.

Sebutan Nusantara yang merupakan nama rangkaian pulau yang membentang di kawasan Asia bagian tenggara. Dulu, kawasan tersebut merupakan daratan, disebut dataran Sunda. Hingga pada ketika mencairnya es di kutub utara dan selatan akibat adanya panas bumi yang meningkat maka daratan rendah di wilayah tersebut terendam air dan terjadilah lautan sedang daratan tingginya membentuk pulau-pulau. Pulau-pulau tersebut terdiri dari gugusan pulau-pulau besar disebut Sunda Besar dan gugusan pulau-pulau lebih kecil disebut Sunda kecil.

Dalam literatur geografi sebutan nusantara bisa diistilahkan gugusan kepulauan tersebut lebih tepat disebut Kepulauan Sunda atau Sunda Archipellago sesuai dengan pembahasan Oppenheimer dan Arisio Santos.

Referensi. Kebudayaan Sunda, Edi S. Ekajati

Eden in the East,Stephen Oppenfeimer

Atlantis the lost continent finally found

R.W. van Bemmelen (1949

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>